HARI GURU : SEMANGAT YANG TAK (PERNAH) PADAM

MASANEGA PERINGATI HARI GURU

Hari ini (25/11) adalah hari istimewa bagi para guru di Indonesia. Setelah ditetapkan oleh Keputusan Presiden tahun 1994 pada waktu itu dan bersamaan dengan lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), setiap tanggal 25 Nopember diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Mungkin tidak banyak lembaga pendidikan yang memperingati hari guru. Akan tetapi, MTsN I Malang di tiap tahunnya selalu memperingatinya dengan mengadakan upacara dan selamatan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan selama ini.

Di sela-sela upacara diserahkan pula penghargaan kepada guru pegiat literasi di MASANEGA, yaitu kepada Ibu Isnaini.

Madrasah yang berdiri sejak tahun 1980 ini tentunya maju dan berkembang tidak lepas dari peran para guru yang siap sedia berkorban demi keberhasilan anak didiknya sehingga menjadikan madrasah nomor wahid di kabupaten Malang. Lebih dari 200an guru yang mengabdikan diri disini, baik yang masih aktif mengajar, purna tugas, pindah tugas, ataupun yang sudah berpulang ke rahmatullah.

Berikut ini beberapa sosok guru yang mewakili tiga zaman, yaitu guru tempo dulu, guru milenium, dan guru zaman now.


1. Pak Agus Irianto
Alumni MASANEGA mana yang bisa melupakan sosok berkumis ini. Beliau mengabdikan diri lebih dari 33 tahun di MASANEGA. Pembawaan yang humoris dan ciri khas lainnya menjadikan beliau "ice breaker" dalam suasana panas ataupun dingin. Tanpa pamrih, ikhlas dengan yang dikerjakan dan ditugaskan. Panggilan hati menjadikan dirinya mengabdikan diri lama di MASANEGA dan berharap bisa memberikan yang terbaik selama beliau bisa. Beliau adalah representasi guru tempo dulu yang tetap berjuang di zaman now.

2. Bu Umi Chorida
Beliau sudah lebih 29 tahun berada di MASANEGA. Pembawaannya yang kalem dan suara yang pelan sempat membuat beliau tidak PD saat berhadapan dengan murid pada waktu itu. Terlintas dalam pikiran, guru bukan lagi cita-cita lagi bagi beliau. Dengan beriringnya waktu dan kemauan ingin tetap mengamalkan ilmunya menjadikan beliau pribadi yang istiqamah dalam profesi guru ini hingga sekarang. Semangat beliau bertambah manakala di tiap tahunnya beliau bertemu anak-anak didiknya dengan tingkah polah baru mereka yang "lucu". Beliau representasi guru tempo dulu yang masih mencari tantangan bertemu dengan anak-anak zaman now.

3. Ibu Shofiyah
Bu Shofi nama sapaan akrab beliau. Keuletan dan dedikasi yang ditunjukkan selama lebih 17 tahun ini belum sedikitpun luntur. Baru lulus sarjana pada waktu itu membuat dirinya haruslah mencari sekolah agar pendidikan yang ditempuh tidak sia-sia. Banyak lamaran dikirimkan, hingga pada kesempatan ke 13 beliau diminta datang ke sebuah madrasah yang dikiranya dekat dengan kampusnya dulu di Malang. Tak sesuai harapan tapi tetap harus dijalani bagaimanapun keadaannya. Antara Ngantang dan Gondanglegi, ujung barat dan ujung selatan kabupaten Malang. Kesan beliau, kekeluargaan MASANEGA yang terjalin erat dan rukun selama ini membuat beliau "kerasan" dan menetap lama hingga berumah tangga di Gondanglegi. Beliau juga sering berbagi cerita dan memberi motivasi kepada anak-anak yang belum terbiasa jauh dari rumah karena harus belajar mondok. Beliau representasi guru milenium yang berdedikasi sampai zaman now.

4. Pak Dani Bagus Setiawan
Baru dua tahun ini pak Dany mengajar di MASANEGA, tetapi menjadi guru idola. Hobi sepak bola dan pembawaannya yang kekinian mudah mendekatkan dirinya dengan anak-anak. Sehingga tak jarang banyak siswa yang tak sungkan bertanya soal pelajaran di luar jam pelajaran, bahkan ada pula yang "curhat". Maklum, guru yang satu ini masih belum ada "gandengannya". Beliau merupakan representasi guru zaman now, pribadi rendah hati dengan pendekatan kekinian idola anak-anak zaman now.

Terima kasih wahai para guru. Kasih sayangmu tak lekang oleh waktu. Dan limpahan ilmumu takkan mengusaikan keikhlasanmu. (Amir)

SIMULASIKAN UNBK RAIH PRESTASI

MASANEGA SIMULASIKAN UNBK

MTsN I Malang mulai Senin ini (20/11/2017) mengadakan simulasi pertama UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Di hari pertama ini mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia.

Sementara ujian ini hanya menggunakan satu ruangan saja. Dikarenakan keterbatasan dari jumlah perangkat dan ruangan simulasi yang masih digunakan sebagai kelas.. Akan tetapi untuk simulasi berikutnya, diusahakan baik perangkat maupun ruang ujian sudah siap dan disimulaskan seperti layaknya ujian aslinya.

Rencananya, MASANEGA dalam satu sesi terdapat empat ruangan yang dipakai. Masing-masing ruangan terdiri dari 20an siswa. Kemungkinan untuk siswa MASANEGA sendiri dibagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi pertama (pukul 07.30 - 09.30) dan sesi kedua (pukul 10.00 - 12.00).

Belum ada kendala teknis di hari pertama ini. Hanya saja beberapa peserta masih mencoba "berkenalan" dengan sistem UNBK. Ada yang salah memasukkan nama atau password di awal atau juga pada saat pengerjaan soal tiba-tiba log out sendiri.

"Kendala untuk hari ini memang belum ada seperti tahun kemarin yang sempat down internetnya. Sehingga membuat panik peserta. Tapi itu semua sudah kami antisipasi sekarang." tutur Edy selaku teknisi simulasi UNBK.

"Diharapkan kepada anak-anak yang mempunyai laptop, khususnya kelas 9, untuk meminjamkan laptopnya. Karena jumlah yang sementara ada masih belum mencukupi untuk empat ruangan seperti yang direncanakan. " imbuh Edy

Harapan semuanya agar UNBK tahun ini tidak mengalami kendala dan sukses dalam prestasi untuk pencapaian nilai UN tertinggi. (Amir)

MASANEGA TUAN RUMAH PEMBINAAN DIREKTUR GTK KEMENAG RI

Gondanglegi. Suatu kehormatan Sabtu kemarin (11 Nopember 2017) bagi MTsN I Malang menjadi tuan rumah Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Malang yang disampaikan langsung oleh Dirjen Pendidikan Kementerian RI, Prof. DR. Suyitno, M. Ag.

 

Acara yang diadakan oleh Kankemenag Kabupaten Malang ini dihadiri oleh seluruh kepala MI, MTs, dan MA seluruh kabupaten Malang, baik negeri maupun swasta, serta para pengawas di tingkat masing-masing jenjang pendidikan madrasah. Jumlah undangan yang disebar sebanyak 600 lebih undangan, akan tetapi melihat dari tempat yang disediakan panitia perkiraan yang hadir mencapai 700-an.

 

Turut menghadiri dalam acara tersebut kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Drs. H. Samsul Bahri, M.Pd.I. Dalam sambutannya beliau melantangkan moto madrasah dan diikuti secara kompak oleh hadirin (madrasah lebih baik, lebih baik madrasah).

 

"Sekarang madrasah menjadi pilihan pertama bagi calon wali murid dibanding dengan sekolah. Hal ini dibuktikan dengan data calon peserta didik yang mendaftar lebih banyak dua atau tiga kali lipat dari kuota yang dibutuhkan." cerita Kakanwil yang asli dari Jembrana Bali ini.

 

"Sebagai kepala madrasah berani berinovasi dan mau berkorban merupakan kunci keberhasilan akan kesuksesan pendidikan. Di samping itu, kita sebagai warga madrasah dapat bersaing sehat dengan lembaga pendidikan di luar madrasah dengan tetap saling menghargai dan menghormati. Caranya dengan perbaikan mutu guru, sarana prasarana madrasah, sistem managerial, dan human relationships dilaksanakan dengan baik." tutur beliau dengan tegas tanpa meninggalkan ciri khas humoris beliau.

 

Di akhir sambutannya, beliau mengapresiasi MTsN I Malang (MASANEGA) selaku tuan rumah yang berwajah kekinian, tak kalah dengan lembaga lainnya di luar lingkungan kementerian agama.

 

Sambutan kedua disampaikan oleh kepala Kantor Kemenag Kabupaten Malang, Drs. H.  Imron. Beliau bangga dengan lembaga madrasah yang ada di kabupaten sekaligus para pendidiknya yang sangat antusias dalam memajukan kwalitas pendidikan di kabupaten Malang ini. Akan tetapi beliau juga menggarisbawahi beberapa persoalan tentang indeks prestasi madrasah di tingkat provinsi maupun nasional.

 

Oleh karena itu, beliau berharap kepada para kepala madrasah yang hadir untuk lebih meningkatkan mutu dengan tetap berinovasi, menemukan teknologi tepat guna proses pendidikan, dan tetap berpedoman pada regulasi-regulasi yang ada.

 

Serta dapat mengevaluasi diri madrasah masing-masing dari capaian tahun-tahun sebelumnya.

 

Acara inti yaitu pembinaan oleh Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Agama RI oleh Prof. DR. Suyitno, M. Ag. Beliau asli dari Jawa Timur, tepatnya Tulungagung.

 

Di awal beliau menyampaikan perhatian pemerintah yang begitu besar terhadap pendidikan. Anggaran lebih dari 65 triliyun digelontorkan untuk pendidikan. Dan sebagian besar diperuntukkan bagi pengajar yang bersertifikat pendidik atau pengajar yang mendapatkan tunjangan profesi guru (TPG).

 

Beliau menyampaikan data-data berkenaan dengan jumlah madrasah, pengajar, dan sebarannya di seluruh Indonesia. Dan ternyata, Provinsi Jawa Timur di urutan pertama terbanyak.

 

Permasalahan yang diangkat yaitu sebaran yang kurang merata, terutama dalam hal tenaga teknis pengajar dan fasilitas, pemerintah berusaha untuk memecahkannya. Diantaranya dengan memberikan tunjangan khusus bagi siapa saja pendidik yang bersedia dan terkualifikasi ditugaskan di daerah yang membutuhkan (daerah terluar di Indonesia).

 

Serta permasalahan yang sebenarnya sudah lama dipikirkan oleh pemerintah, yaitu masih banyaknya guru yang belum tersertifikasi hingga tahun ini. Padahal berdasarkan undang-undang persoalan sertifikasi harus selesai pada tahun 2017 ini. Sehingga pemerintah sudah menyiapkan program lanjutan untuk hal ini dan diharapkan mampu dengan segera masalah pendidikan dan meningkatkan kualitasnya.

 

"Pendidikan bukan hanya sekedar output yang dihasilkan, melainkan juga proses, yaitu bagaimana pengelolaan yang baik, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta tindak lanjut secara berkesinambungan berjalan." pungkas Suyitno. (Amir)

PERSAMI MASANEGA PUPUK DIRI JADI MANDIRI

Setelah tertunda sekitar sebulan lalu, akhirnya kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu (PERSAMI) di MTsN I Malang dimulai hari ini (Sabtu, 4 November 2017) sampai esok, hari Minggu sekitar pukul 09.00.

 

Kegiatan PERSAMI diikuti oleh seluruh siswa kelas 7 baru yang berjumlah 321 siswa. Istimewanya kegiatan tahun ini tidak ada jadwal besuk seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bertujuan agar peserta didik untuk lebih menghayati akan jiwa pramuka yang mandiri.

 

Diawali dengan kegiatan salat Duhur berjamaah di masjid MASANEGA dan dilanjutkan dengan upacara pembukaan setelahnya.

 

Awan mendung tampak menyelimuti langit madrasah, akan tetapi tak menyurutkan semangat para peserta untuk menyukseskan upacara pembukaan. Dipimpin langsung oleh Kakak Pembina, yaitu kepala madrasah, H.  Nasrullah upacara pembukaan dimulai dan seluruh keluarga besar MASANEGA pun turut mendampingi.

 

Pembacaan Pancasila dan Dasa Dharma dengan khidmat diikuti dan didengar sehingga menambah motivasi penanaman jiwa kepramukaan yang tampak di raut wajah para peserta.

 

Dalam amanahnya, Kakak Pembina menaruh harapan besar kepada seluruh peserta agar memupuk kemandirian sejak dini sebagai bekal di kemudian hari. Ajang pramuka bukan hanya sekedar permainan, tetapi di dalamnya lebih dari itu, semua tertuang dalam Dasa Dharma Pramuka dan Tri Satya.

 

Berbagai kegiatan telah dipersiapkan, mulai dari lomba pioneering, outbond, jelajah malam, renungan suci, acara utama api unggun, dan beberapa kegiatan lainnya.

 

Walaupun kondisi cuaca sekitar Malang Raya cenderung hujan, harapan semuanya agar kegiatan ini tetap berjalan dengan lancar dan khususnya bagi anak-anak tetap menjaga kesehatannya.

 

Salam PRAMUKA! (Amir)